Oleh: blkpklampok | 19 Juli 2016

Pelatihan Budidaya Jamur Tiram 2016

Brosur Pelatihan Jamur (Copy Hitam Putih)

Oleh: blkpklampok | 18 Oktober 2013

PELATIHAN AGRIBISNIS 2013

Brosur Pelatihan BLK

Oleh: blkpklampok | 7 Mei 2013

Budidaya Jahe Merah dalam Karung atau Polybag

Membudidayakan tanaman Jahe ternyata tidak harus di lahan langsung. Dengan menggunakan karung bekas atau polybag, kita bisa membudidayakan Jahe dengan intensif dan tidak memerlukan lahan yang terlalu luas. Bahkan produktivitasnya bisa cukup tinggi.

Berikut adalah langkah-langkah praktis dalam membudidayakan Jahe Merah dalam karung atau polybag

1.    Menyiapkan media tanam

Media tanam yang dipakai adalah karung bekas atau polybag. Jika menggunakan karung, bisa menggunakan karung bekas beras atau pakan ternak. Semakin besar ukuran karung, media pengisi juga semakin banyak, namun produktivitas Jahe Merah juga akan semakin tinggi. Jika menggunakan polybag, gunakan polybag dengan ukuran minimal 40 x 50 cm.

Media pengisi karung atau polybag adalah tanah, pasir dan pupuk organik dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2

Tanah

Tanah yang baik adalah tanah yang gembur dan subur. Gembur artinya remah dan komposisi liat, pasir, dan debunya seimbang. Subur berarti banyak kandungan unsur haranya. Jika tanah yang digunakan sudah subur dan gembur, sebenarnya tidak diperlukan penambahan bahan lain. Namun karena jarang didapatkan tanah yang subur dan gembur, maka diperlukan penambahan bahan lain seperti pasir dan pupuk.

Pasir

Pasir diperlukan jika tanah yang digunakan mengandung fraksi liat yang cukup tinggi. Pasir yang digunakan adalah pasir ladu atau pasir yang bercampur dengan lumpur. Selain murah, pasir ini juga masih mengandung bahan-bahan mineral endapan.

Pupuk Organik

Pupuk organik bisa menggunakan pupuk kandang, pupuk kompos atau bokashi. Meskipun menggunakan pupuk kandang, akan lebih bagus jika pupuk kandang yang telah dihancurkan dan difermentasi sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman. Untuk pembuatan pupuk bokashi akan dibahas pada sesi yang lain.

Seluruh media tersebut dicampur merata sambil dibersihkan dari benda-benda yang mengganggu, misalnya plastik, batu atau benda lainnya. Kemudian media pengisi dimasukkan ke dalam karung atau polybag yang telah disiapkan. Pengisian karung atau polybag cukup ¼ bagian saja, karena selama pertumbuhan tanaman nanti, akan dilakukan penambahan pupuk organik.

2.    Membibitkan Jahe

Pemilihan benih

Pembibitan Jahe dimulai dari pemilihan benih. Benih untuk bibit Jahe diambil dari rimpangnya. Rimpang untuk benih yang baik adalah rimpang yang segar (tidak disimpan terlalu lama), sehat, ukurannya besar atau normal, tidak cacat atau terluka, dan berasal dari induk yang sudah cukup tua dan sehat. Karena asal-usul induk harus jelas, maka sebaiknya rimpang untuk benih diambilkan dari kebun petani, bukan dari pasar konsumsi.Rimpang yang telah diperoleh kemudian disortir dan dipilih yang baik.

Pengecambahan

Jika dikhawatirkan adanya serangan jamur, benih bisa direndam terlebih dahulu pada larutan fungisida (misalnya Dithane M-45) selama 15 menit. Jika tidak, benih cukup direndam atau dibasahi dengan air, kemudian diletakkan pada tampah atau nyiru, dan ditempatkan pada tempat yang lembab agar berkecambah. Agar kelembaban terjaga, setiap hari benih harus dikontrol dan dibasahi air jika terlalu kering. Benih akan mulai berkecambah setelah kira-kira 2 minggu.

Penyemaian

Selama mengecambahkan benih, kita bisa menyiapkan tempat pesemaian berupa petak ukuran 1 x 2 m yang dibatasi dengan batubata dan diisi dengan pasir dan pupuk organik. Tempat pesemaian sebaiknya tidak terkena sinar matahari dan hujan secara langsung. Pada media tersebut, benih yang telah berkecambah kita tanam dengan kedalaman kira-kira 4-5 cm. Benih tersebut akan mulai tumbuh menjadi tanaman muda dalam waktu sekitar 2-4 minggu. Setelah tumbuh dengan ketinggian sekitar 10 cm, bibit dapat diambil/dipotong dari rimpangnya dan ditanam pada media karung atau polybag yang telah disiapkan. Rimpang yang tersisa bisa ditanam kembali pada pesemaian agar tumbuh bibit yang lain. Satu buah rimpang bisa menumbuhkan sekitar 2-4 bibit.

3.    Menanam

Penanaman bibit Jahe pada karung atau polybag harus hati-hati. Buatlah lubang sebesar ukuran pangkal bibit, masukkan bibit Jahe ke dalam lubang tanam, kemudian tutup dengan media disekitarnya dan padatkan. Setelah penanaman, media dan bibit harus disiram dengan air bersih agar tanaman mendapatkan cukup air dan kontak dengan media. Setelah ditanam, tanaman Jahe tersebut jangan langsung ditempatkan pada ruang yang terbuka dengan sinar matahari langsung, melainkan harus diadaptasikan pada tempat yang memiliki naungan terlebih dahulu hingga umur 2,5 bulan.

4.    Memelihara

Pemeliharaan tanaman Jahe dalam karung atau polybag cukup mudah. Pemeliharaan meliputi: penyiraman, penyiangan dan penggemburan media, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.

Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari, sebaiknya pada sore hari, terutama saat tidak ada hujan. Beberapa petani menggabungkan budidaya Jahe Merah dengan budidaya ikan dalam kolam, untuk memudahkan penyiraman dan mengantisipasi kebutuhan air saat musim kemarau. Selain itu, air kolam diharapkan memberi unsur hara tambahan bagi tanaman. Penyiraman bisa dihentikan saat tanaman Jahe mulai memasuki fase senecense (mengering) saat tua dan mendekati panen.

Penyiangan dan penggemburan

Rumput yang tumbuh pada media tanam perlu disiang agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman, terutama pada sekitar 4 bulan pertama, di mana tanaman Jahe belum begitu rimbun. Beberapa petani menambahkan mulsa jerami pada media tanam untuk menekan pertumbuhan gulma. Selain penyiangan, media tanam juga perlu digemburkan dengan menggunakan cetok. Penggemburan dimaksudkan untuk menyediakan media tumbuh yang baik bagi akar tanaman dan memperbaiki sirkulasi udara dalam media.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan 2 bulan sekali seiring pertumbuhan tanaman, dengan menambahkan pupuk organik pada media tanam. Jumlah pupuk yang diberikan tergantung dari besarnya media yang digunakan, kira-kira 1/5 ukuran karung atau polybag yang digunakan. Pemupukan bisa diberikan 3 kali selama umur tanaman.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Sebenarnya kasus serangan hama dan penyakit yang serius pada tanaman Jahe jarang terdengar. Namun akan lebih baik jika kita mengetahui dan mengantisipasi hal tersebut.

Hama yang sering menyerang tanaman Jahe adalah belalang dan ulat yang memakan daun terutama daun muda. Untuk pengendaliannya, kita bisa menggunakan beberapa cara yaitu:

–          Cara mekanis, dengan memeriksa tanaman dan membunuh hama terutama ulat yang sering memakan daun, atau dengan menggunakan perangkap serangga berupa plastik berwarna cerah (kuning atau merah) yang dipasang dengan bambu dan diolesi lem.

–          Cara kimiawi, dengan menyemprotkan insektisida yang tepat untuk mengendalikan belalang dan ulat. Insektisida yang dianjurkan adalah insektisida organik berbahan aktif tembakau atau yang lainnya.

Sedangkan penyakit yang mungkin bisa menyerang tanaman Jahe adalah penyakit Layu Bakteri dan Busuk Rimpang yang disebabkan oleh jamur. Untuk mencegah penyakit tersebut, kesehatan benih dan sanitasi lingkungan pertanamanperlu diperhatikan.  Pastikan benih merupakan benih sehat dan berasal dari induk yang sehat. Lingkungan pertanaman juga perlu dijaga agar bersih dan tidak terlalu lembab atau tergenang air. Untuk tanaman yang telah terserang penyakit, bisa disemprot dengan bakterisida atau fungisida, jika perlu dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman yang lain.

5.    Memanen

Tanaman Jahe bisa dipanen setelah kira-kira 10 bulan. Tanaman yang sudah cukup tua dan siap panen akan melewati masa mengering, di mana daun dan batangnya berubah menjadi kuning dan mengering. Pemanenan Jahe dari media karung dan polybag cukup mudah karena tidak perlu menggali dengan susah payah. Kita cukup menggali dengan cetok dan membuka karung atau polybag yang sudah mulai lapuk. Angkat rimpang Jahe dengan hati-hati agar tidak rusak, bersihkan dari tanah dan kotoran yang menempel, dan jika perlu cuci dengan air bersih. Satu rumpun tanaman Jahe dalam 1 media tanam karung ukuran 50 kg, bisa menghasilkan rimpang Jahe segar2 hingga 5 kg.

Oleh: blkpklampok | 28 Juni 2012

Akhir Pelatihan Bukanlah Akhir Perjuangan

Hari Selasa, 27 Juni 2012 lalu diadakan acara penutupan pelatihan kejuruan perkebunan dan kejuruan keramik di BLK Pertanian Klampok. Penutupan dilakukan di Aula BLKP setelah pelatihan selama 15 hari selesai dilakukan. Peserta berasal dari Kecamatan Selomerto-Wonosobo dan Desa Kalijaran-Purbalingga. Lima belas hari para peserta tersebut tinggal di asrama BLK dan mengikuti pelatihan dari pagi hingga malam hari. Sungguh, bagi peserta dan instruktur hal tersebut adalah suatu kegiatan yang amat padat dan pasti melelahkan. Namun di hari penutupan pelatihan itu peserta terlihat sibuk dan bersemangat. Wajar, karena mereka harus mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Apalagi mereka akan pulang ke rumah dan bertemu keluarga yang ditinggal selama pelatihan.

Acara penutupan berjalan dengan lancar. Meskipun sederhana dan formal, namun peserta tampak tidak terlalu tegang. Berbeda dengan saat mereka pertama kali datang ke BLK dan mengikuti pembukaan pelatihan. Kali ini banyak wajah-wajah sumringah. Mungkin sudah mulai terbiasa dengan lingkungan dan orang-orang di BLKP Klampok.

Dan rupanya benar. Bahkan Bp. Abdul Rauf, perwakilan peserta, saat menyampaikan kesan pesan mengungkapkan merasa ‘kerasan’ tinggal di BLK. Namun yang menarik adalah kalimat yang beliau sampaikan dalam kesan pesan tersebut, “Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan.” Kalimat yang cukup menggugah peserta.

Pengetahuan dan pengalaman yang didapat selama mengikuti pelatihan di BLK akan menjadi sia-sia lalu hilang jika tidak dilanjutkan dan dikembangkan. Motivasi-motivasi yang diberikan instruktur dan Kepala BLK diharapkan masih terus menyala di hati dan mengobarkan semangat untuk memulai perjuangan: membuka dan mengembangkan usaha.

Dan semoga, setiap saat mereka selalu bersemangat, melakukan yang terbaik, demi masa depan.

Semangat Pagi!!

Oleh: blkpklampok | 7 Juni 2012

Pelatihan Membuat Pupuk Organik

BLK Pertanian Klampok baru saja menyelenggarakan Pelatihan Membuat Pupuk Organik di Desa Widarapayung Wetan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap. Pelatihan yang diselenggarakan selama 20 hari pelatihan tersebut diikuti oleh 16 orang peserta dari Kelompok Tani Widjaya Organik, kelompok yang sengaja dibentuk untuk memulai membuat dan menyebarluaskan penggunaan pupuk dan pestisida organik di wilayah Desa Widarapayung Wetan.

Dalam pelatihan ini, peserta dilatih membuat pupuk organik bokashi dengan menggunakan EM4, pupuk organik Biotriba, pupuk organik cair, dan membuat pestisida dari bahan-bahan nabati/tanaman yang ada di lingkungan sekitar. Bahan-bahan sisa panen seperti jerami, sekam dan daun-daunan dijadikan bahan baku untuk membuat pupuk organik tersebut. Sedangkan pestisida organik yang dibuat menggunakan daun nimba, daun tembakau, daun sirsak, lengkuas, lada dan bahan-bahan lain yang mudah ditemui.

Peserta cukup antusias dalam mengikuti pelatihan membuat pupuk organik ini. Bahkan beberapa telah mencoba efektifitas pupuk dan pestisida organik tersebut pada tanamannya.

Semoga apa yang telah didapat dari pelatihan yang diselenggarakan BLK Pertanian Klampok ini dapat terus dikembangkan dalam usaha kelompok. Bahkan ditularkan kepada petani lain agar pertanian kita tidak tergantung dari bahan kimia, dan mengurangi kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan kimia berlebih.

 

Oleh: blkpklampok | 8 Februari 2012

Kunjungan Kepala Dinas ke BLKP Klampok

Pada Rabu, 1 Februari 2012 lalu, Kepala Dinas Nakertransduk Jateng, Bp. Petrus Edison Ambarura, berkunjung ke BLK Pertanian Klampok. Rombongan tiba pada pukul 13.30 WIB setelah sebelumnya berkunjung ke BLKI Cilacap. Dalam kunjungan itu Bapak Kepala Dinas memberikan pembinaan kepada seluruh pegawai BLKP Klampok dan melakukan peninjauan di beberapa workshop di BLKP Klampok.

Rombongan disambut oleh (Plt.) Kepala BLKP Klampok, (Plt.) Kasubbag. Tata Usaha, Bp. Banuri yang baru saja memasuki masa purna, serta seluruh pegawai BLKP Klampok.

Yang Jujur Yang Dipercaya

Dalam pembinaan yang dilakukan di Ruang Aula BLKP, Bapak Petrus menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh PNS. Di antaranya adalah tugas melayani masyarakat adalah tugas yang mulia, sehingga jika kita bekerja dengan tulus ikhlas maka hal itu akan dihitung sebagai ibadah. Selain itu, PNS perlu membudayakan disiplin dalam bekerja, termasuk dalam hal jam kerja. Jam kerja dinas adalah dari pukul 07.00 s/d 15.30.

PNS juga harus selalu bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini. “Jangan selalu melihat ke atas; lihatlah ke samping kiri kanan, dan ke bawah.” kata Kepala Dinas dalam pembinaan tersebut. “Ini agar kita tidak mudah merasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain.” imbuhnya.

Pak Petrus juga berpesan agar pegawai selalu bekerja dengan jujur. Kejujuran akan membawa kita kepada kepercayaan dan rasa aman. Sebaliknya, ketidakjujuran akan menjerumuskan kita pada kehancuran dan ketidakpercayaan. “Atasan pasti akan memilih anak buah yang jujur.”

Kepala Dinas juga berkenan memberikan selamat kepada Bpk. Banuri untuk memasuki masa purna tugasnya.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan peninjauan ke beberapa workshop di BLKP Klampok. Workshop yang dikunjungi Kepala Dinas adalah workshop PHP, Peternakan dan Perikanan. Kepala Dinas juga menyampaikan beberapa pesan kepada instruktur untuk kreatif dalam memberikan pelatihan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat sehingga masyarakat dapat merasakan dampak pelatihan itu secara nyata.

Oleh: blkpklampok | 5 Januari 2012

Program Pelatihan untuk PNPM

BLK Pertanian Klampok, melalui paket  pelatihan APBN,  menawarkan kepada Badan Keswadayaan Masyarakat dan Kelompok Swadaya Masyarakat di Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, khususnya di sekitar Banjarnegara untuk kerja sama penyelenggaraan pelatihan kerja bagi masyarakat.

Jenis pelatihan kerja yang kami tawarkan adalah pelatihan kerja di bidang pertanian secara umum, yaitu bidang-bidang hortikultura, tanaman pangan, tanaman perkebunan, perikanan, peternakan, mekanisasi pertanian maupun pengolahan hasil pertanian. Daftar jenis pelatihan dapat dilihat pada menu Layanan Pelatihan di atas.

BLK Pertanian Klampok telah menyediakan instruktur/tenaga pelatih, materi, bahan ajar, bahan praktek, peralatan praktek, dan fasilitas asrama. Kelompok Swadaya Masyarakat tinggal memfasilitasi akomodasi peserta, yaitu konsumsi selama pelatihan (sekitar 20 hari pelatihan).

Keuntungan kerja sama seperti ini adalah desa tidak perlu mengeluarkan dana yang relatif besar seperti dengan mengundang instruktur atau tenaga pelatih ke desa dan menanggung seluruh kebutuhan pelatihan. Anggaran yang biasanya untuk honor instruktur dan pembelian bahan, bisa digunakan untuk hal yang lain, seperti modal untuk usaha masyarakat, pembelian alat/mesin pertanian, hewan ternak, pembangunan kandang, dll.

Melalui kerja sama seperti ini diharapkan program PNPM dapat lebih efektif, efisien dan memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.

Oleh: blkpklampok | 4 Januari 2012

71 Paket Pelatihan diTahun 2012

Berita Baik bagi Masyarakat.

Tahun 2012 ini BLK Pertanian Klampok memperoleh anggaran untuk menyelenggarakan 71 paket pelatihan dari pemerintah melalui APBN dan APBD. Ini berarti kesempatan untuk memperoleh pelayanan pelatihan gratis bagi masyarakat lebih besar. Karena pada tahun lalu, BLK hanya memperoleh anggaran untuk menyelenggarakan 25 paket pelatihan yang berasal dari APBD.

Pelatihan akan diselenggarakan mulai bulan Februari. Sebagian pelatihan dilaksanakan secara institusional (di dalam BLK) dan sebagian lagi dilaksanakan secara MTU, atau di tempat pemohon.

Beruntung fasilitas asrama di BLK telah rampung direnovasi sehingga peserta pelatihan akan dapat menikmati fasilitas asrama yang lebih baik dari sebelumnya.

Bagi masyarakat yang tertarik dan membutuhkan pelatihan di bidang pertanian secara gratis, silakan berkunjung ke kantor BLK Pertanian Klampok, Jl. Raya Klampok No. 48 Km. 29 Banjarnegara.

Semoga dengan meningkatnya jumlah paket pelatihan dapat meningkatkan pula kualitas masyarakat kita dalam berkarya.

Oleh: blkpklampok | 3 Januari 2012

Selamat Datang

Selasa, 3 Januari 2012

Hari ini blog BLK Pertanian Klampok secara teknis dibuka.

Kami sedang berupaya untuk mengenalkan Balai Latihan Kerja kami beserta program pelatihannya.

Mungkin masih banyak kekurangan, namun kami akan terus berbenah untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

Semoga bermanfaat untuk menjembatani informasi dari BLK untuk masyarakat.

Oleh: blkpklampok | 3 Januari 2012

Sejarah

Dengan diprakarsai oleh Bapak R. Sugeng Diposumarto pada tahun 1950 di Desa Pasiraman Lor Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas atas ijin Djawatan Penempatan Kerja di Jakarta maka berdirilah Kursus Kader Pertanian Rendah (KKPR) yang memberikan pelatihan bagi calon kader pertanian.  Pada tahun 1951 KKPR berubah namanya menjadi KUP atau Kursus Usaha Pertanian.

Akibat gangguan keamanan oleh DI/TII yang terjadi di Desa Pasiraman Lor, maka keberadaan KUP di Desa Pasiraman Lor tidak bisa dipertahankan lagi dan akhirnya pada bulan Maret tahun 1953 KUP berpindah ke Desa Klampok Kecamatan Purwareja – Klampok Kabupaten  Banjarnegara.

Sehubungan dengan terjadinya perubahan pada Kementrian Perburuhan maka pada tanggal 01 September 1955 yang semula adalah Djawatan Penempatan Kerja dipecah menjadi Djawatan Penempatan Kerja dan Djawatan Latihan Kerja, maka KUP berubah namanyaa menjadi PLKP atau Pusat Latihan Kerja Pertanian dibawah Djawatan Latihan Kerja.

Pada tahun 1961 Kementrian Perburuhan berubah menjadi Departemen Perburuhan demikian juga Djawatan Latihan Kerja berubah menjadi Direktorat Latihan Kerja tetapi PLKP tidak mengalami perubahan.  Sehingga pada tahun 1970 Direktorat Latihan Kerja berubah menjadi Lembaga Pembinaan Tenaga Kerja atau Lembaga Bina Karya dan PLKP mengalami perubahan yang semula berarti Pusat Latihan Kerja Pertanian menjadi Pusat Latihan Kejuruan Pertanian dengan singkatan yang sama yaitu PLKP.

Terjadinya penggabungan Departemen Tenaga Kerja dengan Transmigrasi dan Koperasi pada tahun 1971 dan berdirinya Departemen Transmigrasi dan Koperasi yang berasal dari Direktorat Jenderal Transmigrasi dan Direktorat Jenderal Koperasi pada tahun 1978, demikian juga dengan perubahan dari Lembaga Pembinaan Tenaga Kerja menjadi Pusat Pembinaan Tenaga Kerja atau Pusat Bina Kerja berpengaruh terhadap tata nama Pusat  Latihan Kejuruan Pertanian atau PLKP menjadi Balai Latihan Kerja Pertanian atau BLKP.

Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Kep. 199/MEN/1983, maka Pusat Pembinaan Tenaga Kerja Pertanian atau BLKP berubah menjadi Balai Latihan Kerja atau BLK type A.

Pada tahun 1997 berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Kep.  88/MEN/1997 maka terjadi perubahan dari Balai Latihan Kerja atau BLK menjadi Balai Latihan Kerja Khusus Pertanian atau BLKKP type B.

Memasuki Era Otonomi Daerah maka BLKKP Klampok diserahkan kepada Provinsi Jawa Tengah dan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor : 01 Tahun 2002, maka BLKKP Klampok secara resmi menjadi Unit Pelaksana Teknis Provinsi Jawa Tengah dibawah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan nama Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP).

Walaupun terjadi beberapa perubahan tata nama yang semula  UPT Departemen dan kemudian menjadi UPT Provinsi, tetapi tugas BLKP Klampok tetap sama yaitu melaksanakan kegiatan pelatihan baik Institusional maupun Non Institusional (MTU) dibidang pertanian yang sasarannya bagi pencari kerja dan kelompok tani.

Sehubungan adanya potensi daerah khususnya Kabupaten Banjarnegara dengan Keramik antiknya maka masyarakat pengrajin dan pengusaha Keramik di Kecamatan Purwareja Klampok dan Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara ditunjuk menjadi sentra pengrajin Keramik dari pertimbangan ini maka berdasarkan Instruksi Gubernur Jawa Tengah mulai tahun 2004 BLK Pertanian Klampok berkembang dan ditunjuk sebagai pusat Latihan Keramik disamping tetap melaksanakan pelatihan Kejuruan pertanian dalam arti luas.

Selanjutnya berdasarkan Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah maka BLK Pertanian Klampok dalam melaksanakan Tugas dan Fungsinya adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah.

Kategori